Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2015-11-01.

Gambar 1

Dalam perjalanan hidup yang tanpa henti, tak jua lah ilalang yang terus bergema beriang tawa, meskipun sajak mentari di ujung sana yang tak pernah menampakkan batasnya,

Dan ku berjalan dalam perlahan, dalam hentakan nafas yang mulai terlelah, tertatih terpeluh perih yang merajam ,hingga tak sanggup menahan , dalam sayup yang mulai Nampak,

Terlihat surau tua di ujung bukit itu, yang sudah mulai lapuk terkikiskan tangisan waktu , dan  langkah yang mulai renta ini, teriiring detak hentakan yang mulai menggema, tetes demi tetes bulir tubuh ini semakin mendera, sejenak saja ku rebahkan raga lapuk di setengah perjalanan ini, raga yang telah tercabik kelamnya kehidupan tak abadi,

Dan dalam sujud yang tertangis pilu, noktah hitam yang telah lama melekat dalam jiwa mulai sirna, karena jejak   ini, hanya melangkahkan kisah yang berulang menghujam,

cerita kelam,

dari lelaki yang tertinggal kaumnya, kaum bermoral hina yang jadikan nafsu panutan jiwa,  tak ubahnya binatang-binatang termandikan lumpur yang terkurung tebelenggu dalam kurungan dunia,  Mereka terlupa, akan hari dimana  kau bangkit tertunduk menghadap-Nya,

dan kau tau? Tatkala langit mulai menampakan percikan cahya kecilnya ataupun temaram sang rembulan mulai tersayup merindu di sana, aku masih berjalan pada jalan setapak menanjak , dalam langkah seirama menuju tepian langit yang tak pernah membiaskan warnanya..

#sebuah “Perjalanan” dari kehidupan yang fana