Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2014-10-09.

kamu itu.. Sajak terikat yang tak pernah pudar, dan hembusan angin yang telah terbayang sirna, Karena kamu itu tak ubahnya terik surya dengan terangnya, lalu hujan datang dan hapuskan semua jejak langkah yang telah terpahat. Saat langkah kaki ini mulai berjalan beriringan, dengan nada dan gempita yang sama, alunan lincah nan gemulai dari langkah yang kamu biaskan, yang semakin membuat nafas ini menari bersamamu. Dan saat rintik demi rintik hujan itu mulai reda, dan jua lah tetes demi tetes mulai hentikan gemericiknya, sang waktu pun hilang sadarnya saat aku dan kamu sudah berada di bawah payung yang sama.. tau ku denganmu itu payung sederhana ini menjadi kiasan yang begitu indah, dan tauku bersamamu itu, kita bisa melangkahkan sepatu usang ini bersama menyeberang ke garis batas itu. Meski perih nan rintih yang akan menjadi selimutmu maupun diriku, karena pada ujung garis pantai itu, desiran ombak yang telah teralun syahdu membuka tiap celah jiwa ini, dan bersamamu itu.. aku maupun kamu belajar pahami putaran roda yang telah terputar dengan tak tentu. Putaran yang terkadang lebih kejam dari tawa yang terhapus dari senyuman. Karena pada akhirnya hanya Tangan Tuhan Yang bisa Menjawab coretan tinta kisah aku bersama kamu..
Di Bumi Sunda aku masih melangkah