Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2014-10-02.

Gambar 1


Sunyi.. tatkala rembulan masih saja terdiam di kelamnya perih, begitu jua setiap hembusan nafas yang semakin memburu dalam alunan tak berarti, aku? Mungkin mereka tak lebih pantas dalam menyebut, ah rupanya dahulu lintang-lintang itu pernah menyinarkan pendaran cahya nya, tak ubahnya refleksi merah jingga yang bersading pantas, namun cahya kini itu telah tiada nan terbekas, dalam diam ku riuk dari genangan air pekat itu mengingatkan daku pada sebuah labuhan kesendirian , tempat dimana setiap keluh pilu manusia itu berada, saling beradu, menyatu nan berpadu. Tempat yang indah untuk kau lepaskan pangkat di pundak ataupun jeruji di jiwa. Sebuah tempat yang akan dengan mudah kau melihat indahnya senja di kala retorika negeri ini telah terhenti sejenak. Terlihat di kejauhan sedikit pendaran cahya itu,  Perlahan namun pasti, dengan langkah lirih ku langkahkan kaki ku pada cahya yang sedikit bersinar di ujung Labuhan itu, sebuah cahya yang semakin menenteramkan jiwa-jiwa sunyi yang enggan memandangnya, mungkin cahya itu lebih pantas untuk ku sebut, Jasmine …

Sunda, di penghujung malam