Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2014-10-28.

Jejak langkah yang terukir indah, entah fatamorgana yang terbiaskan atau rintik hujan yang sedari tadi tak mau hentikan derasnya, dan disini, kami.. masih saja berangan, masih saja terlelap dalam bayang semu yang tak pernah berujung sirna. Terlelap dengan sebongkah berlian, tatkala mereka dengan sesuap nasi sudah melupakan rasa manisnya. Waktu pun pernah bicara, mereka pernah menantang perlambangan timbangan itu dengan gagah, dengan dada terbusung bangga, ia lupa.. lupa akan lembaran kertas hina itu yang membuat roda dunia ini berjalan, tanpanya hampa jua lah kata mereka. Dengan cermin kristal mereka berkaca, dalam diam mereka terhina, saat anak-anak mereka dengan tawa yang terpendar dari garis wajah indahnya, mereka berdusta dengan yang katanya generasi penerus bangsa, tentang dimana orang paruh baya yang mereka panggil ayah.. Seandainya kami tahu, kau.. tanah tempat kami berpijak dan mengenggam asa derita, tak akan menjadi,
Zamrud yang tak pernah bewarna,,
Karena setiap tetes dan peluh yang dahulu pernah kami perjuangkan, Dengan segenap harapan yang mengiringi nafas , Cita dan derita yang sudah merasuk dalam setiap tulang, Membuat mu,
Bumi Pertiwi ku,
Zamrud dengan hijau nan biru membentang…
“Soempah Pemoeda - 28 Oktober 2014”
note : this poem was participated in the writing contest