Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2014-11-09.

Gambar 1

Dan kau, elegi negeri yang tak pernah habis kisahnya, dan kau pula lah temaram cahya hingar bingar itu, dengan sederet nafsu yang mulai memburu, tahu ku jua, berjuta juta tatap muka sendu menjadi selimut kisahmu, kisah negeri terdiam terbalut pilu, sejenak saat surya mulai tergerak dari labuhannya, dengan sedikit kurebahkan sandaran di atas dipan yang sudah tua itu, sunyi dalam kalbu yang mulai terusik jerit tangis bocah yang berlari tak tentu, badai gemuruh yang jatuh datang tanpa arah tuju, ketika para ibu mulai meronta asa memeluk hampa, mencari harta hati mereka yang lenyap tak terbekas, tau ku hanya deras kristal bening itu yang terus saja mengalir tanpa henti dari mata sayu para ibu, dengan lahap erupsi menjalar menerkam tubuh tanpa dosa , nafas pun terhenti, beriringan dengan mimpi mereka bersanding di Tanah Karo, tanah tempat kau bisa melihat deretan hijau padi dan jagung, hanya saat kau menutup mata sejenak, hamparan hijau itu termakan nafas erupsi yang mulai memburu, segenap cita dan doa menjadi lantunan bagi semua untuk mereka,

Tuhan, beragam cobaan untuk negeri yang membisu ini kau limpahkan Apalah daya jiwa yang tak pantas bersua dengan raga memahami-Mu, Cukuplah hikmah menjadi penghangat kalbu, Dari kami, Negeri berselimutkan tangis pilu

#This poem is dedicated for Tanah Karo’s people