Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu โ€” ditulis 2016-12-21.

Gambar 1

Rintik rintik hujan yang selalu terbasah rindu, gemericik riuk air yang kian berisik buyarkan lamunan sendu, dalam sendiri duduk di dipan tua ini, dipan kosong yang telah menjadikan debu selimut bagi dirinya. Jualah sayup mata ini seakan menatap ke ujung siluet yang tenggelam. Siluet haru yang menjadi refleksi kala riang tawa masih merekahkan senyumnya. Rona merah dari senyuman seorang wanita paruh baya, dan juga yang menjadi tangis saat waktu yang menjadikan menunggu itu peluh. Dikala tangis tak mampu menggapai tangan mungilnya, hanya untuk meminta sejenak bersandar di pundaknya, pundak lusuh yang dahulu selalu di dekapnya.

Dan dia tak pernah menertawakan arti sebuah kerinduan. Saat kayuhan sepeda tua itu bersandar dengan iringan terik pagi. Hanya untuk mengantar benih hatinya menuju segenap cita. Karena dahulu benih hati itu tak pernah bisa mengartikan. Setiap penat lelahnya menjadi bahagia. Di setiap hentakan langkahnya menjadi lentera kecil penyemangat. Dan setiap nafasnya yang hilang menjadi penopang agar benih hati kecilnya tidak pernah terluka.

Dan ingatlah saat tangis dan tawamu menjadi rindunya. Entah saat dia duduk di beranda depan rumahmu menjelang senja. Atau kala langit malam yang memaksa terpejam tatkala peluh itu mengalir dalam senyapnya. Tentang dimana separuh hatinya yang tak pernah bersua. Ataulah tentang gerimis-gerimis kecil yang mulai jatuh kala anak itu berlari menuju dekapannya. Karena peluh bahagianya itu sederhana. Sederhana saat bingkai rumah itu terbuka oleh salammu dan terketuk oleh langkah kakimu.Juga sesederhana saat kau memanggilnya, ibu โ€ฆ

  • Sunda -
  • Desember 22, 2016 -