Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2016-07-24.

Sore hari yang terwarna dengan bising lalu lalang langkah kaki mereka, refleksi yang hadir saat berada bersama dalam satu kubah di sudut kota itu, terderet senada dalam alunan cerita akan seorang yang telah berlalu dalam hidupnya, terkisahkan di suatu masa yang tak dapat diungkapkan dengan frasa bait kehidupan, terlihat mentari mulai sayup merayu untuk kembali menemui sang malam, namun apalah jua bintang yang sedari tadi duduk di peraduannya termangu, terdiam, berkalut malu,
Dan kau tahu? Saat malam yang dengan terang indahnya, dengan mudah kau tatap semerbak hamparan lintang kecil penuh arti kerinduan, entah tentang tawa yang hadir tiba-tiba, atau rindu hati yang tak pernah kita tunggu hadirnya,
Terkadang aku pernah memikirkan arti sebuah kerinduan, kalut rindu akan dinginnya malam kota, ataulah hanya suara kayuh sepeda pak tani di tiap pagi membawa harapan untuknya, karena kerinduan itu jua yang membawa pada sebuah pertemuan, pertemuan yang tak disangka entah karena garis Tuhan yang telah berkata dan berucap, yang bertemu karena telah lama bersua, dari raut wajah yang telah berubah sendu, dan dari mata yang terukir layu, kita pun sadar masing-masing dari kita sudah ada pada jalan yang berbeda, berbeda yang memiliki arti berjuang untuk membuat garis senyuman ibu dan bapak kita agar selalu terkembang indah, karena jalan yang berbeda itu yang membuat buku cerita yang semakin mewarna, mewarna sebuah perjuangan dan melukiskan sebuah arti kerinduan. Dan terdengar jauh, suara kedatangan kereta yang memaksa kita untuk segera berpindah, berpindah untuk mengkayuh asa dan cita di kota seberang, dan karena suatu saat, kota ini akan kita singgahi lagi, sebagai tempat merindu dan bercerita lagi.
- Kediri, Syawal 1437 H -