Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2019-04-05.

Ketika Hujan,
Setiap rintik kecil yang jatuh perlahan, selalu saja menggariskan cerita kisahnya tersendiri. Entah cerita tangis atau tawa yang menjadi warna kelabunya. Atau mungkin tak berwarna layaknya buih air yang terpercik dari genangan kenangan itu? Dan terkadang ada kalanya satu bait kenangan yang dulu pernah terwarna kelabu, menjadi tanpa warna dalam bingkai kecil hati itu. Karena hati kecil itu telah terbait dengan kisah yang menjadi labuhannya. Labuhan sederhana yang penuh dengan warna jingga.
Dan kala Pelangi,
Yang tak pernah ada tanpa adanya hujan, yang telah jua menggariskan beragam warna menjadi satu. Dan Ketika diam nya menyadarkan akan sebuah rasa, begitu juga ketika perginya yang telah memberikan sebuah luka. Sebuah luka yang membuat cemburu dengan deras hujan, yang dengan rintik kecilnya mampu menghapus langkah darinya.
Dan saat berjalan di serambi masjid itu, seakan waktu yang memaksa hentikan langkah ini. Berjalan perlahan, tersadar dari ujung sana senyuman itu terkembang merekah. Merekah indah seperti pertemuan saat rintik hujan terjatuh ke bumi. Entah masih sama rupanya, hanya sebentar dan tanpa saling bertepuk hangat. Dan dari tatapan mata sayu dan lesung pipit itu, aku tahu, hujan dan pelangi telah bahagia dengan kisah ceritanya masing-masing,
~ 09 November 2017 ~