Catatan: Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama @senjadisoreitu — ditulis 2016-03-05.

Dan detik waktu yang terus berjalan, fatamorgana sayup sendu yang teriringi langkah kita, mencoba menari bersama namun apalah pantas dengan latar kerinduan, jua lah aku tak pernah berkisah tentang sehelai daun bergaris pilu, saat hening malam yang membuatnya tenang, atau terik surya yang memberikan ia secercah kehidupan, dalam alunan angin yang terhembus… daun itu jatuh dari tangkai peraduannya, berhembus kehampaan, dan mengalun jalan kesendiriannya,
Saat daun itu terhempaskan alunan kisah klasik abu-abu, aku tak pernah menyalahkan perjalanan sang waktu, saat waktu yang berirama dengan setiap candaan dan tawa yang terbuai rindu, saat terik senja berlalu menjadi latar kita berlari bersama untuk menuju, tatkala setiap rintihan hati yang berbeda saling beradu, merajam nafsu, namun selalu merengkuh untuk saling bertatap penuh malu,
Dan sekarang, biarlah sang waktu terus berjalan dalam peredaran langkahnya, entah aku atau kalian yang terlebih dahulu tersadar, saat kisah klasik abu-abu itu hanya menjadi salah satu goresan frasa kehidupan terindah yang pernah kalian buat, saat senyuman dan doa akan kugantungkan di langit-Nya, bersanding mesra dengan harapan akan selalu bersua, meski hanya sejenak melihat rona wajah yang mulai saja berbeda, tahu ku sampai pula daun itu menapak jejak di bumi, menatap langkah baru baginya dalam peraduannya yang baru…
sehelai Daun yang tergaris pilu,,,