<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
  <title>Jurnal &amp; Catatan</title>
  <subtitle>Sebuah ruang sunyi untuk merayakan jejak-jejak langkah yang tertinggal di pasir — sebelum dihapus oleh ombak, sebelum dilupa oleh waktu.</subtitle>
  <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/feed.xml" rel="self"/>
  <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/"/>
  <updated>2019-04-05T00:00:00.000Z</updated>
  <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/</id>
  <author>
    <name>Syaefullah</name>
    <email>halo@jurnal.id</email>
  </author>
  <entry>
    <title>Saat sajak pertama mulai bercerita, saat bias hujan masih...</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/saat-sajak-pertama-mulai-bercerita-saat-bias-hujan-masih/"/>
    <updated>2012-12-31T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/saat-sajak-pertama-mulai-bercerita-saat-bias-hujan-masih/</id>
    <summary>Saat sajak pertama mulai bercerita, saat bias hujan masih terlukis jernih pada bingkai daun-daun itu. Aku masih di sini, menatap senja yang perlahan meninggalkan dunia ini. Perlahan dengan alunan...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2012-12-31.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-19-19.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;aat sajak pertama mulai bercerita, saat bias hujan masih terlukis jernih pada bingkai daun-daun itu. Aku masih di sini, menatap senja yang perlahan meninggalkan dunia ini. Perlahan dengan alunan yang teramat sunyi, dan begitu juga desir pasir di pesisir pantai itu. Masih saja menyiratkan bayangan antara …&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Aku dan Senja di sore itu ,&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Merekahnya Mentari</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/merekahnya-mentari/"/>
    <updated>2014-09-19T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/merekahnya-mentari/</id>
    <summary>Pagi .. dengan langkah kaki ku merajut setiap rajutan cerita di bumi sunda ini, ayunan jemari kaki yang sedari tadi masih terdiam di sini. Tak ubahnya retorika cerita negeri cakrawala yang sedang...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-09-19.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-18-18.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;agi .. dengan langkah kaki ku merajut setiap rajutan cerita di bumi sunda ini, ayunan jemari kaki yang sedari tadi masih terdiam di sini. Tak ubahnya retorika cerita negeri cakrawala yang sedang tersakiti. entahlah, hanya sederet alasan - alasan itu yang mampu membuat raga dan jiwa untuk terus melangkah. yahh.. sedikit demi sedikit melangkahkan jejak, agar terus membekas hingga mentari itu kembali ke labuhannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;di Bumi Sunda aku melangkah..&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sambut Hari Esok</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/sambut-hari-esok/"/>
    <updated>2014-09-20T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/sambut-hari-esok/</id>
    <summary>Habiskan waktu duduk berdua denganmu, bercerita tentang hidupku dan hidupmu, cari makna yang terpendam di dasar jiwa bersamamu teman ku sambut hari esok, dan genggam tanganku erat, ku yakin kita bisa...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-09-20.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-17-17.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;H&lt;/strong&gt;abiskan waktu duduk berdua denganmu, bercerita tentang hidupku dan hidupmu, cari makna yang terpendam di dasar jiwa bersamamu teman ku sambut hari esok, dan genggam tanganku erat, ku yakin kita bisa melewati hari ini dengan senyuman, dan jangan pernah kau lupakan hidup hanya sebuah rencana yang tak akan pernah bisa terulang, peluh yang tercurah tanda bahwa kita bisa, menjalani semua menyambut hari esok…&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;dan esok hari.. saat fajar mulai menyinsing.. usap pilu mu dan sambut hangatnya mentari&lt;/em&gt;..&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;a song lyrics from &lt;strong&gt;Ungu : Tak Terulang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Jasmine ...</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/jasmine/"/>
    <updated>2014-10-02T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/jasmine/</id>
    <summary>Sunyi.. tatkala rembulan masih saja terdiam di kelamnya perih, begitu jua setiap hembusan nafas yang semakin memburu dalam alunan tak berarti, aku? Mungkin mereka tak lebih pantas dalam menyebut, ah...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-10-02.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-16-16.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sunyi..&lt;/strong&gt; tatkala rembulan masih saja terdiam di kelamnya perih, begitu jua setiap hembusan nafas yang semakin memburu dalam alunan tak berarti, aku? Mungkin mereka tak lebih pantas dalam menyebut, ah rupanya dahulu lintang-lintang itu pernah menyinarkan pendaran cahya nya, tak ubahnya refleksi merah jingga yang bersading pantas, namun cahya kini itu telah tiada nan terbekas, dalam diam ku riuk dari genangan air pekat itu mengingatkan daku pada sebuah labuhan kesendirian , tempat dimana setiap keluh pilu manusia itu berada, saling beradu, menyatu nan berpadu. Tempat yang indah untuk kau lepaskan pangkat di pundak ataupun jeruji di jiwa. Sebuah tempat yang akan dengan mudah kau melihat indahnya senja di kala retorika negeri ini telah terhenti sejenak. Terlihat di kejauhan sedikit pendaran cahya itu,  Perlahan namun pasti, dengan langkah lirih ku langkahkan kaki ku pada cahya yang sedikit bersinar di ujung Labuhan itu, sebuah cahya yang semakin menenteramkan jiwa-jiwa sunyi yang enggan memandangnya, mungkin cahya itu lebih pantas untuk ku sebut, Jasmine …&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sunda, di penghujung malam&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>kamu ...</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/kamu/"/>
    <updated>2014-10-09T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/kamu/</id>
    <summary>kamu itu.. Sajak terikat yang tak pernah pudar, dan hembusan angin yang telah terbayang sirna, Karena kamu itu tak ubahnya terik surya dengan terangnya, lalu hujan datang dan hapuskan semua jejak...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-10-09.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-15-15.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;kamu&lt;/strong&gt; itu.. Sajak terikat yang tak pernah pudar, dan hembusan angin yang telah terbayang sirna, Karena kamu itu tak ubahnya terik surya dengan terangnya, lalu hujan datang dan hapuskan semua jejak langkah yang telah terpahat. Saat langkah kaki ini mulai berjalan beriringan, dengan nada dan gempita yang sama, alunan lincah nan gemulai dari langkah yang kamu biaskan, yang semakin membuat nafas ini menari bersamamu. Dan saat rintik demi rintik hujan itu mulai reda, dan jua lah tetes demi tetes  mulai hentikan gemericiknya, sang waktu pun hilang sadarnya saat aku dan kamu sudah berada di bawah payung yang sama.. tau ku denganmu itu payung sederhana ini menjadi kiasan yang begitu indah, dan tauku bersamamu itu, kita bisa melangkahkan sepatu usang ini bersama menyeberang ke garis batas itu. Meski perih nan rintih yang akan menjadi selimutmu maupun diriku, karena pada ujung garis pantai itu, desiran ombak yang telah teralun syahdu membuka tiap celah  jiwa ini, dan bersamamu itu.. aku maupun kamu belajar pahami putaran roda yang telah terputar dengan tak tentu. Putaran yang terkadang lebih kejam dari tawa yang terhapus dari senyuman. Karena pada akhirnya hanya Tangan Tuhan Yang bisa Menjawab coretan tinta kisah aku bersama kamu..&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Di Bumi Sunda aku &lt;s&gt;masih&lt;/s&gt; melangkah&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Rosemary</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/rosemary/"/>
    <updated>2014-10-11T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/rosemary/</id>
    <summary>Tanah lapang itu, tanah dengan beribu kuntum mawar semu yang terbias dari butiran embun. Kau tau di pagi ini seharusnya mentari mau sedikit saja bagikan cahyanya, namun dengan gelapnya ia masih saja...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-10-11.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-14-14.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tanah lapang itu, tanah dengan beribu kuntum mawar semu yang terbias dari butiran embun. Kau tau di pagi ini seharusnya mentari mau sedikit saja bagikan cahyanya, namun dengan gelapnya ia masih saja enggan berpijak dari labuhannya. Gelap  tak sampai pun kau berjalan pada jalan itu, jalan setapak dengan deretan bata rona merah layaknya bibir manis yang nampak dari senyuman itu. Senyuman yang terkembang dengan indah tak ubahnya garis kuning saat senja mulai redupkan pesonanya. Dan saat kau sadar, aku sudah sedari tadi termenung di dipan tua depan stasiun itu. Menunggu mu, menunggu  waktu yang berjalan lambat, jua lah hiruk pikuk  yang tak pernah hentikan riuknya. Dalam sadarku, Tulisan di sampul buku itu sedikit memantulkan lembaran-lembaran lamanya, kau tau? Sampul itu tertuliskan.. Rosemary ..&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;inspired by  “Light Rosemary”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sajadah Hijau</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/sajadah-hijau/"/>
    <updated>2014-10-23T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/sajadah-hijau/</id>
    <summary>Dalam bayang semu, dalam jemari yang sudah tak peduli dengan noktaf yang tergores dan terlukis di kertas, dengan dedaunan yang selalu meneteskan butiran-butiran kehidupannya, dan begitu jua aku,...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-10-23.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-13-13.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;alam bayang semu, dalam jemari yang sudah tak peduli dengan noktaf yang tergores dan terlukis di kertas, dengan dedaunan yang selalu meneteskan butiran-butiran kehidupannya, dan begitu jua aku, dengan segala hal, dengan segala cerita, dengan segala asa, dan jua dengan segala dosa. Hujan, terkadang memberikan suatu kisahnya sendiri, tak tahu ku, aku selalu ingin melihat hujan itu lagi, entah kenapa dengan hujan aku bisa menemukan cahya berwarna saat deras sudah mulai terbiaskan mentari. dan aku masih di sini, masih berlimpuh dengan segala kerendahan hati, dengan segala asa ku yang tak pernah mampu kuiringi, dan hanya di atas sajadah hijau itu sebagai tempat sujud ku untuk kembali, sebagai bekal…&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;persiapan awal mula perjalanan nan panjang kan di mulai..
#&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Zamrud Yang Tak Pernah Berwarna</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/zamrud-yang-tak-pernah-berwarna/"/>
    <updated>2014-10-28T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/zamrud-yang-tak-pernah-berwarna/</id>
    <summary>Jejak langkah yang terukir indah, entah fatamorgana yang terbiaskan atau rintik hujan yang sedari tadi tak mau hentikan derasnya, dan disini, kami.. masih saja berangan, masih saja terlelap dalam...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-10-28.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-12-12.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jejak langkah yang terukir indah, entah fatamorgana yang terbiaskan atau rintik hujan yang sedari tadi tak mau hentikan derasnya, dan disini, kami.. masih saja berangan, masih saja terlelap dalam bayang semu yang tak pernah berujung sirna. Terlelap dengan sebongkah  berlian, tatkala mereka dengan sesuap nasi sudah melupakan rasa manisnya. Waktu pun pernah bicara, mereka pernah menantang perlambangan timbangan itu dengan gagah, dengan dada terbusung bangga, ia lupa.. lupa akan lembaran kertas hina itu yang membuat roda dunia ini berjalan, tanpanya hampa jua lah kata mereka. Dengan cermin kristal mereka berkaca, dalam diam mereka terhina, saat anak-anak mereka dengan tawa yang terpendar dari garis wajah indahnya, mereka berdusta dengan yang katanya generasi penerus bangsa, tentang dimana orang paruh baya yang mereka panggil ayah.. Seandainya kami tahu, kau.. tanah tempat kami berpijak dan mengenggam asa derita, tak akan menjadi,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zamrud yang tak pernah bewarna,,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena setiap tetes dan peluh yang dahulu pernah kami perjuangkan, Dengan segenap harapan yang mengiringi nafas , Cita dan derita yang sudah merasuk dalam setiap tulang, Membuat mu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bumi Pertiwi ku,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zamrud dengan hijau nan biru membentang…&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“&lt;strong&gt;Soempah Pemoeda - 28 Oktober 2014&lt;/strong&gt;”&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;note : this poem was participated in the writing contest&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Siluet Negeri Berselimut Pilu</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/siluet-negeri-berselimut-pilu/"/>
    <updated>2014-11-09T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/siluet-negeri-berselimut-pilu/</id>
    <summary>Dan kau, elegi negeri yang tak pernah habis kisahnya, dan kau pula lah temaram cahya hingar bingar itu, dengan sederet nafsu yang mulai memburu, tahu ku jua, berjuta juta tatap muka sendu menjadi...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-11-09.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-11-11.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;an kau, elegi negeri yang tak pernah habis kisahnya, dan kau pula lah temaram cahya hingar bingar itu, dengan sederet nafsu yang mulai memburu, tahu ku jua, berjuta juta tatap muka sendu menjadi selimut kisahmu, kisah negeri terdiam terbalut pilu, sejenak saat surya mulai tergerak dari labuhannya, dengan sedikit kurebahkan sandaran di atas dipan yang sudah tua itu, sunyi dalam kalbu yang mulai terusik jerit tangis bocah yang berlari tak tentu, badai gemuruh yang jatuh datang tanpa arah tuju, ketika para ibu mulai meronta asa memeluk hampa, mencari harta hati mereka yang lenyap tak terbekas, tau ku hanya deras kristal bening itu yang terus saja mengalir tanpa henti dari mata sayu para ibu, dengan lahap erupsi menjalar menerkam tubuh tanpa dosa , nafas pun terhenti, beriringan dengan mimpi mereka bersanding di Tanah Karo, tanah tempat kau bisa melihat deretan hijau padi dan jagung, hanya saat kau menutup mata sejenak, hamparan hijau itu termakan nafas erupsi yang mulai memburu, segenap cita dan doa menjadi lantunan bagi semua untuk mereka,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tuhan, beragam cobaan untuk negeri yang membisu ini kau limpahkan Apalah daya jiwa yang tak pantas bersua dengan raga memahami-Mu, Cukuplah hikmah menjadi penghangat kalbu, Dari kami, Negeri berselimutkan tangis pilu&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;#&lt;strong&gt;This poem is dedicated for Tanah Karo’s people&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tempat Engkau Kembali</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/tempat-engkau-kembali/"/>
    <updated>2014-11-21T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/tempat-engkau-kembali/</id>
    <summary>Rumah.. dan ketika rumah menjadi bias sendu tersendiri, ataupun kenangan bersua saat di beranda rumah, menjadikan pilu tak terucap dalam hati ini. Yah minggu kemarin gue baru aja pulang kampoeng...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2014-11-21.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-10-10.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;R&lt;/strong&gt;umah.. dan ketika rumah menjadi bias sendu tersendiri, ataupun kenangan bersua saat di beranda rumah, menjadikan pilu tak terucap dalam hati ini. Yah minggu kemarin gue baru aja pulang kampoeng lagi, semenjak libur hari besar kemarin. Kepulangan kali ini terasa beda banget, hal yang sangat gue harapin waktu pulang akhirnya kesampaian..yah duduk ngobrol berdua ama ibuk di teras rumah saat bintang menjadi selimut kami, simple kan? Menurut gue hal itu bener-bener serasa *special moment I have, * I don’t know why but, saat ngobrol itu aku bener-bener bisa ngelepasin beban di pundak ini, bicara tentang gimana kondisi di sini, planning ke depan, beberapa hal yang di larang ama beliau, sampai bahas entar halaman depan mau di bagusin buat walimahan nikah. Emang bener beda saat loe cuma ngobrol d telepon aja deh, feel like different aja lah. Dan apa sih yang ngebuat hati ini berat banget? Yah saat loe liat jam dan kurang sejam lagi loe harus berangkat pergi. Yah momen ini, somedays I will miss this moment, yeah somedays.. karena saat loe udah berjalan pergi dan menapaki setiap jengkal bumi pertiwi ini, Cuma satu tempat yang akan buat loe kembali, dimana??&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Absolutely that is &lt;strong&gt;Home&lt;/strong&gt; …&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Abdi Nagari</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/abdi-nagari/"/>
    <updated>2015-02-03T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/abdi-nagari/</id>
    <summary>Memahami, sendiri ku memahami setiap goresan peluh pilu kehidupan Abdi Nagari, entah tawa ku jualah tawa kalian yang terpendar dari lubuk nurani jiwa, dan meski gelap langit membatas sinarnya ataupun...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2015-02-03.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-9-9.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memahami, sendiri ku memahami setiap goresan peluh pilu kehidupan Abdi Nagari, entah tawa ku jualah tawa kalian yang terpendar dari lubuk nurani jiwa, dan meski gelap langit membatas sinarnya ataupun berkas refleksi hujan yang membiaskan jejak kita. dan Ingatlah di tiap langkah yang kau pijak, di garis pantai itu kita akan bertemu..&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;~ after sunset ~&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Samudra</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/samudra/"/>
    <updated>2015-04-18T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/samudra/</id>
    <summary>Hujan.. masih terjatuh dalam alunan rintik-rintik kecil, dalam nada yang terpercik sendu, beriramakan senyuman manis yang nampak indah saat kamu memandang langit di sana, dan kamu ? kisah klasik...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2015-04-18.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-8-8.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hujan.. masih terjatuh dalam alunan rintik-rintik kecil, dalam nada yang terpercik sendu, beriramakan senyuman manis yang nampak indah saat kamu memandang langit di sana, dan kamu ? kisah klasik diriku yang mewarna lembaran-lembaran putih ini, karena dalam perjalanan yang tak pernah tau kapan terhenti, nafas ini sedang menantimu di haluan kapal itu, di ujung kapal itu, berbalut temaram senja kamu berjalan mengenggam tangan ini, dalam malu goresan tangan kasar ini tersanding dengan lembutnya sentuhan ragamu, karena bersamamu mu aku mampu menerpa angin yang menjadi penghalang kita,  ataupun tabir ombak yang tak hentinya menjadi pembatas antara aku dan kamu, &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Meski  cintaku tak sedalam samudra, jualah samudra itu berbatas jarak pada dasar palungnya, karena cinta itu adalah penerimaan, saat aku menerima senyuman itu, dan canda juga tangisanmu,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Dermaga Jingga</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/dermaga-jingga/"/>
    <updated>2015-08-02T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-perjalanan/dermaga-jingga/</id>
    <summary>Menyusuri jalan ini, jalan yang telah mengukir jalan ceritanya sendiri, kau tahu ? meski hening menjadi saksi langkah ini tetap saja berjalan. Karena ia yakin suatu saat jalan itu akan menunjukkan...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2015-08-02.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-7-7.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menyusuri jalan ini, jalan yang telah mengukir jalan
ceritanya sendiri, kau tahu ? meski hening menjadi saksi langkah ini tetap saja
berjalan.
Karena ia yakin suatu saat jalan itu akan menunjukkan ujungnya,
dimana tangan mungil mu sudah menunggu di atas perahu itu, yang telah tersandar
peluh dan waktu pun tak pernah tahu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam perlahan… sendu angin menemani langkah kecil itu,
sejenak kurebahkan raga lelah ini di dipan peraduan di sana, dan terfikir akan
apakah mampu dalam membentangkan layar bahtera itu, terpejam mata ini tersadar
riuk ombak bertalu di tepian dermaga jingga, teringat canda manis yang selalu
menghias lembaran kisah kita, aku tahu tak akan pernah kau mampu menarik layar
lebar itu, jua lah saat diterpa alunan ombak dan nafas badai yang menghujam,
tetapi saat tergenggam tangan lusuhmu dengan kedua tangan suci itu, meski
terombang lautan kelam, bahtera mu masih tetap bertahan gagah, karena kau tahu
..&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bersamamu aku mampu…&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;#02-08-15&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perjalanan</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/perjalanan/"/>
    <updated>2015-11-01T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/tulisan-pribadi/perjalanan/</id>
    <summary>Dalam perjalanan hidup yang tanpa henti, tak jua lah ilalang yang terus bergema beriang tawa, meskipun sajak mentari di ujung sana yang tak pernah menampakkan batasnya, Dan ku berjalan dalam...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2015-11-01.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-6-6.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam perjalanan hidup yang tanpa henti, tak jua lah ilalang yang terus bergema beriang tawa, meskipun sajak mentari di ujung sana yang tak pernah menampakkan batasnya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan ku berjalan dalam perlahan, dalam hentakan nafas yang mulai terlelah, tertatih terpeluh perih yang merajam ,hingga tak sanggup menahan ,
dalam sayup yang mulai Nampak,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terlihat surau tua di ujung bukit itu, yang sudah mulai lapuk terkikiskan tangisan waktu , dan  langkah yang mulai renta ini, teriiring detak hentakan yang mulai menggema, tetes demi tetes bulir tubuh ini semakin mendera, sejenak saja ku rebahkan raga lapuk di setengah perjalanan ini, raga yang telah tercabik kelamnya kehidupan tak abadi,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan dalam sujud yang tertangis pilu, noktah hitam yang telah lama melekat dalam jiwa mulai sirna, karena jejak   ini, hanya melangkahkan kisah yang berulang menghujam,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;cerita kelam,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dari lelaki yang tertinggal kaumnya, kaum bermoral hina yang jadikan nafsu panutan jiwa,  tak ubahnya binatang-binatang termandikan lumpur yang terkurung tebelenggu dalam kurungan dunia,  Mereka terlupa, akan hari dimana  kau bangkit tertunduk menghadap-Nya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan kau tau?
Tatkala langit mulai menampakan percikan cahya kecilnya ataupun temaram sang rembulan mulai tersayup merindu di sana, aku masih berjalan pada jalan setapak menanjak , dalam langkah seirama menuju tepian langit yang tak pernah membiaskan warnanya..&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;#sebuah “Perjalanan” dari kehidupan yang fana&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Daun Tergaris Pilu</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/daun-tergaris-pilu/"/>
    <updated>2016-03-05T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/daun-tergaris-pilu/</id>
    <summary>--- Dan detik waktu yang terus berjalan, fatamorgana sayup sendu yang teriringi langkah kita, mencoba menari bersama namun apalah pantas dengan latar kerinduan, jua lah aku tak pernah berkisah...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2016-03-05.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-5-5.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;Dan detik waktu yang terus berjalan, fatamorgana sayup sendu yang teriringi langkah kita, mencoba menari bersama namun apalah pantas dengan latar kerinduan, jua lah aku tak pernah berkisah tentang sehelai daun bergaris pilu, saat hening malam yang membuatnya tenang, atau terik surya yang memberikan ia secercah kehidupan, dalam alunan angin yang terhembus… daun itu jatuh dari tangkai peraduannya, berhembus kehampaan, dan mengalun jalan kesendiriannya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saat daun itu terhempaskan alunan kisah klasik abu-abu, aku tak pernah menyalahkan perjalanan sang waktu, saat waktu yang berirama dengan setiap candaan dan tawa yang terbuai rindu, saat terik senja  berlalu menjadi latar kita berlari bersama untuk menuju, tatkala setiap rintihan hati yang berbeda saling beradu, merajam nafsu, namun selalu merengkuh untuk saling bertatap penuh malu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan sekarang, biarlah sang waktu terus berjalan dalam peredaran langkahnya, entah aku atau kalian yang terlebih dahulu tersadar, saat kisah klasik abu-abu itu hanya menjadi salah satu goresan frasa kehidupan  terindah yang pernah kalian buat, saat senyuman dan doa akan kugantungkan di langit-Nya, bersanding mesra dengan harapan akan selalu bersua, meski hanya sejenak melihat rona wajah yang mulai saja berbeda,
tahu ku sampai pula daun itu menapak jejak di bumi, menatap langkah baru baginya dalam peraduannya yang baru…&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;sehelai Daun yang tergaris pilu,,,&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Merindu</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/merindu/"/>
    <updated>2016-07-24T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/merindu/</id>
    <summary>Sore hari yang terwarna dengan bising lalu lalang langkah kaki mereka, refleksi yang hadir saat berada bersama dalam satu kubah di sudut kota itu, terderet senada dalam alunan cerita akan seorang...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2016-07-24.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-4-4.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sore hari yang terwarna dengan bising lalu lalang langkah kaki mereka, refleksi yang hadir saat berada bersama dalam satu kubah di sudut kota itu, terderet senada dalam alunan cerita akan seorang yang telah berlalu dalam hidupnya, terkisahkan di suatu masa yang tak dapat diungkapkan dengan frasa bait kehidupan, terlihat mentari mulai sayup merayu untuk kembali menemui sang malam, namun apalah jua bintang yang sedari tadi duduk di peraduannya termangu, terdiam, berkalut malu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan kau tahu? Saat malam yang dengan terang indahnya, dengan mudah kau tatap semerbak hamparan lintang kecil penuh arti kerinduan, entah tentang tawa yang hadir tiba-tiba, atau rindu hati yang tak pernah kita tunggu hadirnya, &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terkadang aku pernah memikirkan arti sebuah kerinduan, kalut rindu akan dinginnya malam kota, ataulah hanya suara kayuh sepeda pak tani di tiap pagi membawa harapan untuknya, karena kerinduan itu jua yang membawa pada sebuah pertemuan, pertemuan yang tak disangka entah karena garis Tuhan yang telah berkata dan berucap,  yang bertemu karena telah lama bersua, dari raut wajah yang telah berubah sendu, dan dari mata yang terukir layu, kita pun sadar masing-masing dari kita sudah ada pada jalan yang berbeda, berbeda yang memiliki arti berjuang untuk membuat garis senyuman ibu dan bapak kita agar selalu terkembang  indah, karena jalan yang berbeda itu yang membuat buku cerita yang semakin mewarna, mewarna sebuah perjuangan dan melukiskan sebuah arti kerinduan. Dan  terdengar jauh, suara kedatangan kereta yang memaksa kita untuk segera berpindah, berpindah untuk mengkayuh asa dan cita di kota seberang, dan karena suatu saat, kota ini akan kita singgahi lagi, sebagai tempat merindu dan bercerita lagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;- Kediri, Syawal 1437 H -&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sesederhana saat kau memanggilnya</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/sesederhana-saat-kau-memanggilnya/"/>
    <updated>2016-12-21T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/sesederhana-saat-kau-memanggilnya/</id>
    <summary>Rintik rintik hujan yang selalu terbasah rindu, gemericik riuk air yang kian berisik buyarkan lamunan sendu, dalam sendiri duduk di dipan tua ini, dipan kosong yang telah menjadikan debu selimut bagi...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2016-12-21.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-3-3.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Rintik rintik hujan yang selalu
terbasah rindu, gemericik riuk air yang kian berisik buyarkan lamunan sendu,
dalam sendiri duduk di dipan tua ini, dipan kosong yang telah menjadikan debu
selimut bagi dirinya. Jualah sayup mata ini seakan menatap ke ujung siluet yang
tenggelam. Siluet haru yang menjadi refleksi kala riang tawa masih merekahkan
senyumnya. Rona merah dari senyuman seorang wanita paruh baya, dan juga yang
menjadi tangis saat waktu yang menjadikan menunggu itu peluh. Dikala tangis tak
mampu menggapai tangan mungilnya, hanya untuk meminta sejenak bersandar di
pundaknya, pundak lusuh yang dahulu selalu di dekapnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan dia tak pernah menertawakan
arti sebuah kerinduan. Saat kayuhan sepeda tua itu bersandar dengan iringan
terik pagi. Hanya untuk mengantar benih hatinya menuju segenap cita. Karena
dahulu benih hati itu tak pernah bisa mengartikan. Setiap penat lelahnya
menjadi bahagia. Di setiap hentakan langkahnya menjadi lentera kecil
penyemangat. Dan setiap nafasnya yang hilang menjadi penopang agar benih hati kecilnya
tidak pernah terluka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan ingatlah saat tangis dan
tawamu menjadi rindunya. Entah saat dia duduk di beranda depan rumahmu
menjelang senja. Atau kala langit malam yang memaksa terpejam tatkala peluh itu
mengalir dalam senyapnya. Tentang dimana separuh hatinya yang tak pernah
bersua. Ataulah tentang gerimis-gerimis kecil yang mulai jatuh kala anak itu
berlari menuju dekapannya. Karena peluh bahagianya itu sederhana. Sederhana
saat bingkai rumah itu terbuka oleh salammu dan terketuk oleh langkah kakimu.Juga sesederhana saat kau memanggilnya, ibu …&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Sunda -&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Desember 22, 2016 -&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Terhenti Waktu</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/terhenti-waktu/"/>
    <updated>2017-05-22T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/terhenti-waktu/</id>
    <summary>Malam tenang yang beriramakan desir langit pengharapan, dan juga lentera tua yang perlahan sudah mulai nampak redupnya di ujung sana. Duduk bersandar dalam lelah kehidupan. Menatap jauh kedalam angan...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2017-05-22.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-2-2.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Malam tenang yang beriramakan desir langit pengharapan, dan juga lentera tua yang perlahan sudah mulai nampak redupnya di ujung sana. Duduk bersandar dalam lelah kehidupan. Menatap jauh kedalam angan yang selalu saja membisu pilu, dan hanya bisa meratap namun tak pernah bisa mendekap.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan hujan, entah darimana bias sajak itu memantul dari genangan kecil itu. Saat menatap wajah sayu yang bersandar dalam peluknya, tersadar garis wajah itu terwarnakan membiru. Entah waktu yang memaksa untuk melupa atau hanya cerita yang meminta untuk memaaf. Untuk kamu angan yang tak pernah kembali pulang&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan dia  tak pernah menyalahkan setiap detik yang terhilang oleh waktu, karena dia pun tahu setiap dekapan hatinya akan selalu ada, yang selalu menemaninya duduk di beranda rumah kala menjelang petang , atau bersandar manja di pundaknya yang mulai terus merapuh . karena dia pun tahu suatu saat entah dia atau hatinya yang pulang terlebih dulu, pulang kembali pada Tuhan-Nya, ke tempat dimana seharusnya kita berada,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan ini sebuah cerita,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kisah cinta yang terhenti oleh waktu&lt;/p&gt;
&lt;h1&gt;H-5 Ramadhan 1438&lt;/h1&gt;
]]></content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hujan dan Pelangi</title>
    <link href="https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/hujan-dan-pelangi/"/>
    <updated>2019-04-05T00:00:00.000Z</updated>
    <id>https://jurnal-catatan.pages.dev/jurnal-kehidupan/hujan-dan-pelangi/</id>
    <summary>Ketika Hujan, Setiap rintik kecil yang jatuh perlahan, selalu saja menggariskan cerita kisahnya tersendiri. Entah cerita tangis atau tawa yang menjadi warna kelabunya. Atau mungkin tak berwarna...</summary>
    <content type="html"><![CDATA[&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; Tulisan ini dipindahkan dari blog Tumblr lama &lt;a href=&quot;https://senjadisoreitu.tumblr.com/&quot;&gt;@senjadisoreitu&lt;/a&gt; — ditulis 2019-04-05.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/assets/uploads/tumblr/tumblr-1-1.jpg&quot; alt=&quot;Gambar 1&quot;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika Hujan,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setiap rintik kecil yang jatuh
perlahan, selalu saja menggariskan cerita kisahnya tersendiri. Entah cerita
tangis atau tawa yang menjadi warna kelabunya. Atau mungkin tak berwarna
layaknya buih air yang terpercik dari genangan kenangan itu? Dan terkadang ada
kalanya satu bait kenangan yang dulu pernah terwarna kelabu, menjadi tanpa
warna dalam bingkai kecil hati itu. Karena hati kecil itu telah terbait dengan
kisah yang menjadi labuhannya. Labuhan sederhana yang penuh dengan warna
jingga.  &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan kala Pelangi,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang tak pernah ada tanpa adanya
hujan, yang telah jua menggariskan beragam warna menjadi satu. Dan Ketika diam
nya menyadarkan akan sebuah rasa, begitu juga ketika perginya yang telah
memberikan sebuah luka.  Sebuah luka yang
membuat  cemburu dengan deras hujan, yang
dengan rintik kecilnya mampu menghapus langkah darinya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan saat berjalan di serambi
masjid itu, seakan waktu yang memaksa hentikan langkah ini. Berjalan perlahan,
tersadar dari ujung sana senyuman itu terkembang merekah. Merekah indah seperti
pertemuan saat rintik hujan terjatuh ke bumi. Entah masih sama rupanya, hanya
sebentar dan tanpa saling bertepuk hangat. Dan dari tatapan mata sayu dan
lesung pipit itu, aku tahu, hujan dan pelangi telah bahagia dengan kisah
ceritanya masing-masing,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;~ 09 November 2017 ~&lt;/p&gt;
]]></content>
  </entry>
</feed>